Renungan Langit Malam
Ada apa dengan langit? Apalagi langit malam kali ini sungguh
pekat, nyaris tidak ada sebuah bintang pun yang memamerkan sinarnya. Apalagi
bulan juga bersembunyi, sehingga kegelapan semakin berkuasa. Tapi tetap saja ia
begitu besar artinya dalam mengingatkan saya akan keberadaan keluarga, juga
mengingatkan saya akan betapa kecilnya saya di hadapan Allah SWT. Bahwa saya
begitu tidak berdaya sebagai manusia.
Dengan melihat langit saya bisa menertawakan diri sendiri yang sering kali begitu ambisius sehingga lupa bersyukur.
Dengan melihat langit saya bisa menertawakan diri sendiri yang sering kali begitu ambisius sehingga lupa bersyukur.
Sering kali sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan untuk
membandingkan dengan orang lain. Merasa iri pada mereka yang terlihat “lebih”.
Betapa apapun yang saya miliki saat ini, yang saya banggakan dan sangat saya
cintai, suatu saat harus saya tinggalkan. Dan tidak ada satupun benda duniawi
yang akan saya bawa selain selembar kain kafan.
Sering pula saya lupa mensyukuri seteguk air yang bisa membasahi kerongkongan di pagi hari, dan sesuap nasi yang melegakan perut yang keroncongan. Sering begitu sibuk mempertanyakan kenapa saya tidak seperti si anu, kenapa saya tidak bisa begini seperti si ini, dan berbagai kenapa-kenapa lainnya yang takkan pernah terjawab jika hati saya berkeras untuk tidak menerima jawaban yang tersedia. Padahal saya telah tahu jawabannya: Bersyukur!
Saya menatap langit sekali lagi. Cukup untuk hari ini saya menatapnya. Besok, di lain waktu, saya ingin meminta Allah memberi saya sedikit lagi waktu untuk menatap langit. Mengumandangkan zikir dan pujian-pujian kepada-Nya.
Maka hamparan ini suatu saat akan bersaksi
Akan sentuhan kuasa-Mu yang maha bertahta
Bahwa hidup, seperti layar dan lapisan yang membentuknya
Akan kembali pada satu titik, pualam mega.
Sering pula saya lupa mensyukuri seteguk air yang bisa membasahi kerongkongan di pagi hari, dan sesuap nasi yang melegakan perut yang keroncongan. Sering begitu sibuk mempertanyakan kenapa saya tidak seperti si anu, kenapa saya tidak bisa begini seperti si ini, dan berbagai kenapa-kenapa lainnya yang takkan pernah terjawab jika hati saya berkeras untuk tidak menerima jawaban yang tersedia. Padahal saya telah tahu jawabannya: Bersyukur!
Saya menatap langit sekali lagi. Cukup untuk hari ini saya menatapnya. Besok, di lain waktu, saya ingin meminta Allah memberi saya sedikit lagi waktu untuk menatap langit. Mengumandangkan zikir dan pujian-pujian kepada-Nya.
Maka hamparan ini suatu saat akan bersaksi
Akan sentuhan kuasa-Mu yang maha bertahta
Bahwa hidup, seperti layar dan lapisan yang membentuknya
Akan kembali pada satu titik, pualam mega.

